30 June 2009

Masyarakat Berbicara Tentang Pancasila

0 komentar
Masyarakat Berbicara Tentang Pancasila

Pancasila, dasar negara Indonesia yang berkali-kali ditawarkan oleh Soekarno pada Sidang BPUPKI tahun 1945 menjadi hal yang cukup menarik untuk dibicarakan saat ini. Hal ini karena prinsip kebangsaan yang seharusnya menjadi anutan seluruh masyarakat Indonesia ternyata lebih banyak hanya sebatas mulut. Dalam sebuah wawancara dengan seorang mahasiswa di FIB, dia menjelaskan bahwa dia tahu apa itu Pancasila, tetapi dia tidak tahu bagaimana mengimplementasikan kelima sila dalam kehidupan sehari-hari. Maka ini adalah temuan yang sangat menarik, karena sudah lama bangsa Indonesia beserta rakyatnya menolak ideologi-ideologi yang lain dan menempatkan ideologi Pancasila sebagai ideologi bangsa.

Berbicara mengenai ideologi, maka sejatinya yang disebut dengan ideologi itu adalah merupakan sebuah dasar akan segala sikap dan pemikiran yang dipakai oleh suatu kelompok masyarakat. Menjadi hal yang cukup konyol ketika kebanyakan masyarakat Indonesia berbicara mengenai Pancasila sebagai ideologi bangsa, tetapi ternyata penyelewengan atas nilai-nilai pancasila menjadi hal yang cukup sering terjadi. Seperti dialog kami dengan seorang tukang becak di lingkungan FIB beberapa saat lalu, dimana beliau berucap bahwa Pancasila sekarang sudah sering dikritik dan diselewengkan.

Ironis sebenarnya ketika melihat nasib Pancasila saat ini. Banyak yang memperjuangkan dan mempertahankannya dari serbuan ideologi-ideologi asing seperti Sosialisme dan Islam, tetapi lebih banyak lagi yang hanya omong kosong dalam memperjuangkan Pancasila. Kini wabah keapatisan terhadap nilai-nilai Pancasila telah menjalar ke seluruh lapisan masyarakat. Pancasila hanya menjadi hafalan dari sila pertama hingga terakhir. Penyikapan atas nilai-nilai luhur Pancasila menjadi hal yang tidak diperhatikan kembali seiring berkembangnya zaman dan begitu derasnya arus globalisasi. Pancasila kini tengah berenang di sebuah lautan demokrasi-kapital, menghadapi ombak liberalisme, dan harus waspada akan arus dalam globalisasi yang sewaktu-waktu dapat menariknya lebih dalam, dan tenggelam.

23 June 2009

Menyelamatkan Dunia Dengan Sampah

0 komentar
Media poster menjadi pilihan kami dalam menyebarkan gagasan akan pentingnya menjaga kebersihan. Kami menganggap bahwa media poster sampai kapanpun masih relevan dalam mengajak masyarakat. Poster ditempel dan dibaca, sehingga mampu mengajak orang lain yang melihat.

Poster kami mengangkat tema “Menyelamatkan Dunia dengan Sampah”. Hal ini karena tidak bias dipungkiri bahwa bencana alam yang menewaskan ribuan jiwa dipicu oleh setitik sampah. Kurangnya kepedulian kita untuk membuang sampah pada tempatnya menjadi salah satu pemicu bencana tersebut. Kini, melalui poster kami mengajak segenap warga FIB untuk lebih peduli terhadap sampah, bukan hanya membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga memungut sampah orang lain yang telah dibuang di sembarang tempat.

Empat buah poster yang berbeda kami pasang di beberapa titik strategis Fakultas Ilmu Budaya supaya dapat diperhatikan oleh orang lain. Adapun poster-poster tersebut antara lain:

1.    Gambaran sampah yang kurang dipedulikan oleh orang lain. Jarang sekali orang melihat ada sampah didepannya lalu memungut dan membuangnya. Oleh karena itu sebuah poster dengan secarik puisi menjadi ajakan untuk memungut sampah yang berserakan dan membuangnya pada tempat yang disediakan.

2.    Sebuah poster mengenai wanita yang membuang sampah di tempat sampah. Dibawahnya disertai ajakan untuk membuang sampah pada tempat yang disediakan.

3.    Poster yang bertemakan menyelamatkan dunia sengan sampah. Sebentuk kepedulian kecil kita terhadap sampah tentu akan menyelamatkan dunia dari berbagai ancaman global yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan bencana alam.

4.    Gambaran bagaimana kita tidak memiliki kesempatan ke dua untuk hidup di bumi ini. “THERE IS NO PLAN B, ONE EARTH, ONE CHANCE“. Bahwa tak ada rencana lain selain bumi. Bumi hanya satu, jika kita merusaknya, maka tidak ada planet lain untuk kita hidup. Sudah selayaknya kita menjaga bumi ini dengan tidak membuang sampah sembarang tempat.

Terakhir, melalui selembar tulisan ini, kami mengajak saudara semua untuk peduli akan kebersihan. Mari selamatkan dunia dengan sampah!!!

21 June 2009

Melihat Kembali Pemikiran Founding Father Indonesia

0 komentar
  • Judul buku : Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan
  • Indonesia (BPUPKI) - Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)
  • Tim Penyunting : Saafroedin Bahar, Ananda B. Kusuma, dan Nannie Hidawati
  • Tebal buku : 650 Hal.
  • Penerbit : Sekretariat Negara Republik Indonesia (Jakarta, 1995)

“Sebuah buku yang cukup baik untuk dijadikan sumber sejarah mengenai kemerdekaan Indonesia”, inilah kesan pertama saya seusai melihat-melihat dan membolak-balik halaman demi halaman dalam buku ini. Buku Risalah Sidang BPUPKI ini merupakan rujukan utama untuk mengetahui apa saja yang terjadi selama sidang BPUPKI yang merupakan siding pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena merupakan risalah, maka jelas buku ini tidak berbentuk narasi atau deskripsi sebagaimana buku sejarah yang lain. Buku setebal 650 halaman ini merupakan laporan dari sidang BPUPKI yang diselenggarakan pada 28 Mei 1945 - 1 Juni 1945 dan 10-17 Juli 1945, serta sidang PPKI pada 18-22 Agustus 1945.

Dalam kata pengantarnya, Prof. Dr. Taufik Abdullah menuliskan bahwa risalah memberikan kepada kita kemungkinan untuk mengenang dan memikirkan kembali pesan terselubung dari rahmat Ilahi. Sebuah pesan yang cukup bijak dari sang profesor apabila melihat kondisi Indonesia pasca merdeka. Kemakmuran yang diidam-idamkan oleh para founding father NKRI seolah hanya semacan utopia apabila melihat kondisi saat ini. Tetapi pasti bukan Indonesia seperti saat ini yang diinginkan oleh Soekarno, Hatta, Sjahrir, Yamin, dll. ketika mereka membahas mengenai konsep akan “Indonesia”. Inilah fungsi kita membaca risalah selain memanfaatkannya sebagai sumber sejarah, yaitu melihat kembali masa lalu untuk memperbaiki masa depan. Risalah Sidang BPUPKI – PPKI ini akan sangat menguntungkan untuk dibaca oleh semua khalayak masyarakat Indonesia yang ingin membangun negeri.

Ketika membaca buku ini, yang timbul adalah rasa takjub dan kagum. Sebuah rasa yang timbul akibat kecerdasan berpikir para bapak bangsa. Terutama bagi para sejarawan pasti akan sangat menggemari Muhammad Yamin yang mengedepankan sisi historis Indonesia dalam prinsip-prinsipnya mengkonsep “Indonesia”. Tetapi tak dapat disingkirkan pula bahwa pemikiran ekonomi kerakyatan ala Mohammad Hatta juga merupakan salah satu yang terbaik. Belum lagi membaca kata-kata yang dilontarkan oleh Ir. Soekarno dalam orasinya pada Sidang BPUPKI ini. “Inilah Indonesia!”, kira-kira seperti itulah pesan yang dilontarkan oleh buku ini kepada pembacanya.

Saya tidak akan memungkiri bahwa alasan pembuatan buku ini adalah sebagai sumber sejarah semata, karena Prof. Dr. Taufik Abdullah juga menyatakan hal serupa pada kata pengantarnya. Tetapi saya juga sangat mendukung apabila buku ini juga dipakai sebagai buku pegangan bagi para pemuda yang ingin membangun negeri, para aktivis gerakan mahasiswa, dan tentunya para eksekutif yang mengendalikan pemerintahan saat ini. Hal ini karena buku ini memberikan gambaran mengenai Indonesia yang seharusnya dan merupakan sebuah refleksi untuk melihat ke belakang sejenak guna membangun Indonesia yang lebih baik.

Sebagai akhir dari resensi, sebuah kata-kata yang sangat indah dari Ir. Soekarno saya kutip dari buku ini: “Jangan mengira bahwa dengan berdirinya Negara Indonesia Merdeka itu perjuangan kita telah berakhir. Tidak! Bahkan saya berkata di dalam Indonesia Merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus, hanya lain sifatnya dengan perjuangan sekarang, lain coraknya. Nanti kita bersama-sama, sebagai bangsa yang bersatu-padu, berjuang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila”.

16 June 2009

Mencari Cara Baru Menyampaikan Makna Nasionalisme pada Lukisan

0 komentar
Panas terik matahari siang itu mirip sekali dengan semangat dua calon seniman akan karya dan idealisme mereka. Hawa panas siang itu sepertinya mampu membakar semangat nasionalisme para seniman muda ini. Mereka adalah Angga dan Wahid, mahasiswa Seni Lukis ISI angakatan 2007. Siang itu. reporter kami, Nurmita Arum Sari bertandang ke suatu kost mahasiswa di timur ISI untuk bertemu pelukis muda Indonesia tersebut. Sebelum bertemu mereka, kami berdua sempat berdiskusi sejenak mengenai makna nasionalisme dan makna seni tersebut. Kami berdua sepakat, bahwasanya nasionalisme adalah ketika kami bergerak serta berjuang demi kebanggaan kami atas bangsa dan tanah air. Sementara seni bagi kami adalah hasil karya manusiayang bersifat indah.

Dengan membawa pandangan-pandangan tadi, berangkatlah salah satu dari kami untuk bertemu dengan kedua seniman kampus ini. Pengertian nasionalisme ini kami benturkan dalam kehidupan seniman kedua mahasiswa ISI tersebut, dimana mereka berdua memandang nasionalisme sebagai semangat kebangsaan yang akan mereka wujudkan melalui sebuah karya. Mereka memanfaatkan karya tersebut sebagai pembakar semangat nasonalisme masyarakat. Dalam hal ini, mereka sangat mengidolakan Affandi, yang terus melawan melalui lukisan-lukisannya.

Dalam hal ini mereka berpendapat bahwa seorang seniman harus mampu menyampaikan pesan dalam setiap karya mereka. Pesan ini digunakan untuk menyemangati masyarakat dan membangun diri untuk terus berkarya, sehingga mereka menyebut ini sebagai “konsep pembangunan”. Para penggemar Affandi ini berpendapat bahwa gaya lukisan pelukis nasionalis saat ini meniru gaya Affandi, hanya saja kebanyakan mereka tidak melakukan inovasi-inovasi. Inilah yang digugat oleh kedua pelukis muda ini, mereka berpendapat bahwa harusnya pelukis sekarang tidak hanya meniru gaya Affandi, tetapi mengeksplorasi gaya-gaya yang lain, belajar ilmu-ilmu yang lain, lalu menggabungkan apa yang telah ia peroleh dalam sebuah karya. Sebagai generasi muda pelukis Indonesia, mereka berdua merasa wajib untuk menumbuhkan semangat nasionalisme pada masyarakat Indonesia melalui karya lukis mereka. Kedua pelukis ini merasa bahwa harus ada cara baru dalam penyampaian makna nasionalisme dalam sebuah lukisan, yaitu dengan menggabungkan konsep-konsep melukis yang beraneka-ragam dengan ilmu-ilmu lain. Sebuah ide yang menarik, kita tunggu saja karya mereka kelak di masa depan. Hebat!!!